Kala bintang menyinari malam
kala malam menemani hariku
gejolak hati ingin menyapa cahayamu
namun ku tak sanggup menyapamu….cahayaku
tak kau sadari ada yang menyayangimu
sepenuh hati, sepenuh jiwa ragaku
ku hanya ingin mencintaimu
walaupun tak bisa kumiliki
hariku, harimu membuatku jadi serasa hangat
ku tak ingin berpisah denganmu
ku tak ingin melukaimu
ku tak ingin menyakitimu
ku tak ingin kau bersedih
kau adalah cahaya hatiku
senja mulai terbenam menutup hariku
terima kasih kau telah mewarnai hidupku
terima kasih cahayaku
ku takkan melupakanmu
cahaya malam yang selalu menemanimu
(Fenomena Hati)
Sahabat bukan lorong untuk berlalu. Karena yang aku tahu, ia tak pernah mengukur waktu. Itulah kenapa aku ingin menjadi sahabatmu. Tubuhku belum renta. Namun bisa lekas tua, jika tak mendengar nyanyianmu, sahabat. Jika umurku sudah senja. Aku ingin pergi dalam doa sahabat. Dan jika tiba saatnya nanti, aku hanya ingin doa sahabat yang bernyanyi dalam lantunan-lantunan tidurku.
Jumat, 26 November 2010
Kekasihku
Ketika mentari beranjak keperaduannya
dilangitpun tampak cahaya keemasan
suara jengkrek menghiasi indahnya malam
menyentuh hati nan gundah gulana
Kasihku,
malam semakin larut
rembulanpun terseyum menatap sanubari
bayang-bayang semakin merapat
membuat hati kecil berteriak sunyi
Kekasihku
embun malam seraya selimut salju
hatiku pun terasa beku
tanpa suara kubisikan
jangan biarkan kusendiri
dilangitpun tampak cahaya keemasan
suara jengkrek menghiasi indahnya malam
menyentuh hati nan gundah gulana
Kasihku,
malam semakin larut
rembulanpun terseyum menatap sanubari
bayang-bayang semakin merapat
membuat hati kecil berteriak sunyi
Kekasihku
embun malam seraya selimut salju
hatiku pun terasa beku
tanpa suara kubisikan
jangan biarkan kusendiri
satu bintang
disatu bintang kutitip hati
yang selalu berpijar terang
disaat kubangun mimpi seluas cakrawala
yang kan'kuhiasi bagai pelangi senja
seperti langit tanpa tepi
dengan elok warna yg tiada duanya
ku coba tuk'menggapaimu
agar hidupku lebih berarti dan penuh warna
mampukah aku menggapai bayangmu.............
dalam malam aku terpuruk rindu
dalam sepi aku bernyanyi
dalam tidur aku..........
cinta aku datang untukmu dengan tersenyum
karena aku bukan pendendam
yang selalu berpijar terang
disaat kubangun mimpi seluas cakrawala
yang kan'kuhiasi bagai pelangi senja
seperti langit tanpa tepi
dengan elok warna yg tiada duanya
ku coba tuk'menggapaimu
agar hidupku lebih berarti dan penuh warna
mampukah aku menggapai bayangmu.............
dalam malam aku terpuruk rindu
dalam sepi aku bernyanyi
dalam tidur aku..........
cinta aku datang untukmu dengan tersenyum
karena aku bukan pendendam
Kamis, 25 November 2010
MENGENDALIKAN KEHIDUPAN
Kita seringkali terlalu membuang-buang waktu dan tenaga merasa resah tentang hal-hal yang di luar pengendalian kita. Kita berusaha keras mengendalikan orang-orang atau hal-hal yang tidak terkendalikan, memanipulasi sana-sini dan mendapatkan dengan rasa frustasi bahwa segala upaya kita percuma saja.
Empat dari hal-hal yang lazim tak terkendalikan dalam hidup kita adalah:
1. Orang lain
Kita tak dapat mengubah atau mengendalikan teman hidup, anak-anak, atasan, atau teman sekerja kita, walaupun kita ingin.
2. Warisan kita
Kita tak dapat memilih keluarga tempat kita dilahirkan, atau apakah kita dilahirkan sebagai anak laki-laki atau perempuan
3. Masa lalu kita
Ada di antara kita yang ingin mengubah sesuatu dari masa lalunya. Dosa-dosa, kesalahan, keputusan buruk, salah pilih tikungan – semuanya menghantui kita, dan kita sering membayangkan bagaimana hidup itu seandainya kita dapat mengendalikan masa lalu itu. Kita tahu, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah masa lalu kita.
4. Lingkungan kita dan keadaan sekitar
Ada banyak hal-hal lingkungan dalam hidup kita yang tak terkendalikan: keadaan ekonomi, pengemudi mabuk yang melenceng melenceng mobilnya sehingga menabrak mobil Anda, biaya hidup, cuaca, dan sebagainya.
Kalau kita berusaha mengendalikan yang tak terkendalikan, hampir selalu berakhir dengan rasa frustasi dan kekecewaan, dan kita sangat merugikan diri kita. Kalau kita coba mengendalikan orang-orang yang tak terkendalikan dalam hidup kita, apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita membiarkan mereka menghancurkan sukacita kita. Mengetahui bahwa kita tidak dapat mengendalikan mereka tetapi masih terus berusaha,
membuat kita berada dalam kuasa mereka. Kebahagiaan kita, damai sejahtera, atau kesenangan kita bergantung dari kelakuan, prestasi atau sikap mereka. Kemudian, ketika kita frustasi karena kita tidak dapat mengendalikan yang tak terkendalikan, kita cenderung melampiaskan kekecewaan kita pada Tuhan. Persekutuan kita terputus dan kita menderita karena tidak mendapat kasih dan kekuatanNya untuk membantu kita.
Allah tidak menelantarkan kita; Ia tidak meninggalkan atau mengabaikan kita. Allah mampu dan siap untuk mengambil hal atau orang yang tak terkendalikan dan memikul beban itu bagi Anda. Ia berada di sana untuk memberi Anda segala bantuan dan dukungan yang Anda butuhkan. Allah tidak akan ambil alih sebelum Anda mengaku bahwa permasalahannya sudah di luar pengendalian Anda.
Ada hal-hal dalam hidup kita yang dapat kita kendalikan :
1. Hubungan kita dengan Allah
Hal itu memerlukan rasa terikat, disiplin dan keinginan. Bila hubungan
Anda dengan Tuhan lebih penting daripada apapun, Anda memiliki kekuatan
untuk mengatasi hal yang tak terkendalikan.
2. Pikiran kita
Jika Anda mempunyai kecenderungan memikir-mikirkan hal-hal yang salah,
membayangkan yang paling buruk, memikirkan hal-hal negatif, dan
membiarkan pikiran Anda dikendalikan oleh keadaan sekitar, Anda tak akan
pernah menang atas hal yang tak terkendalikan.
3. Lidah kita
Begitu banyak kerusakan terjadi setiap hari karena lidah-lidah yang tidak terkendali. Betapa perlunya kita mengendalikan lidah kita dan kata-kata yang kita ucapkan. Hubungan akan sangat membaik jika kita dapat mengendalikan lidah kita.
4. Sikap kita
Sekalipun keadaanmu begitu buruk, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap buruk kalau Anda sendiri tidak mau, dan sekalipun keadaanmu begitu baik, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap baik kalau Anda sendiri tidak mau. Sikap kita merupakan pilihan kita sendiri.
5. Integritas kita
Kita dapat mengendalikan integritas kita. Apakah Anda bertindak jujur sepenuhnya dalam semua bidang kehidupan ? Apakah Anda dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan?
Jika kita menggunakan waktu dan tenaga kita hanya untuk mengendalikan yang dapat kita kendalikan, akan tersisa cukup kekuatan dan kearifan untuk menangani hal-hal yang tak terkendalikan. Kita tidak banyak membuang-buang waktu mengalami frustasi karena orang-orang atau hal-hal yang tak terkendalikan, karena kita terlalu sibuk untuk mengendalikan yang terkendalikan.
Jika Anda dapat mengendalikan yang dapat dikendalikan, Anda dapat menangani yang tidak terkendalikan.
Semoga bermanfaat
Empat dari hal-hal yang lazim tak terkendalikan dalam hidup kita adalah:
1. Orang lain
Kita tak dapat mengubah atau mengendalikan teman hidup, anak-anak, atasan, atau teman sekerja kita, walaupun kita ingin.
2. Warisan kita
Kita tak dapat memilih keluarga tempat kita dilahirkan, atau apakah kita dilahirkan sebagai anak laki-laki atau perempuan
3. Masa lalu kita
Ada di antara kita yang ingin mengubah sesuatu dari masa lalunya. Dosa-dosa, kesalahan, keputusan buruk, salah pilih tikungan – semuanya menghantui kita, dan kita sering membayangkan bagaimana hidup itu seandainya kita dapat mengendalikan masa lalu itu. Kita tahu, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah masa lalu kita.
4. Lingkungan kita dan keadaan sekitar
Ada banyak hal-hal lingkungan dalam hidup kita yang tak terkendalikan: keadaan ekonomi, pengemudi mabuk yang melenceng melenceng mobilnya sehingga menabrak mobil Anda, biaya hidup, cuaca, dan sebagainya.
Kalau kita berusaha mengendalikan yang tak terkendalikan, hampir selalu berakhir dengan rasa frustasi dan kekecewaan, dan kita sangat merugikan diri kita. Kalau kita coba mengendalikan orang-orang yang tak terkendalikan dalam hidup kita, apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita membiarkan mereka menghancurkan sukacita kita. Mengetahui bahwa kita tidak dapat mengendalikan mereka tetapi masih terus berusaha,
membuat kita berada dalam kuasa mereka. Kebahagiaan kita, damai sejahtera, atau kesenangan kita bergantung dari kelakuan, prestasi atau sikap mereka. Kemudian, ketika kita frustasi karena kita tidak dapat mengendalikan yang tak terkendalikan, kita cenderung melampiaskan kekecewaan kita pada Tuhan. Persekutuan kita terputus dan kita menderita karena tidak mendapat kasih dan kekuatanNya untuk membantu kita.
Allah tidak menelantarkan kita; Ia tidak meninggalkan atau mengabaikan kita. Allah mampu dan siap untuk mengambil hal atau orang yang tak terkendalikan dan memikul beban itu bagi Anda. Ia berada di sana untuk memberi Anda segala bantuan dan dukungan yang Anda butuhkan. Allah tidak akan ambil alih sebelum Anda mengaku bahwa permasalahannya sudah di luar pengendalian Anda.
Ada hal-hal dalam hidup kita yang dapat kita kendalikan :
1. Hubungan kita dengan Allah
Hal itu memerlukan rasa terikat, disiplin dan keinginan. Bila hubungan
Anda dengan Tuhan lebih penting daripada apapun, Anda memiliki kekuatan
untuk mengatasi hal yang tak terkendalikan.
2. Pikiran kita
Jika Anda mempunyai kecenderungan memikir-mikirkan hal-hal yang salah,
membayangkan yang paling buruk, memikirkan hal-hal negatif, dan
membiarkan pikiran Anda dikendalikan oleh keadaan sekitar, Anda tak akan
pernah menang atas hal yang tak terkendalikan.
3. Lidah kita
Begitu banyak kerusakan terjadi setiap hari karena lidah-lidah yang tidak terkendali. Betapa perlunya kita mengendalikan lidah kita dan kata-kata yang kita ucapkan. Hubungan akan sangat membaik jika kita dapat mengendalikan lidah kita.
4. Sikap kita
Sekalipun keadaanmu begitu buruk, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap buruk kalau Anda sendiri tidak mau, dan sekalipun keadaanmu begitu baik, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap baik kalau Anda sendiri tidak mau. Sikap kita merupakan pilihan kita sendiri.
5. Integritas kita
Kita dapat mengendalikan integritas kita. Apakah Anda bertindak jujur sepenuhnya dalam semua bidang kehidupan ? Apakah Anda dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan?
Jika kita menggunakan waktu dan tenaga kita hanya untuk mengendalikan yang dapat kita kendalikan, akan tersisa cukup kekuatan dan kearifan untuk menangani hal-hal yang tak terkendalikan. Kita tidak banyak membuang-buang waktu mengalami frustasi karena orang-orang atau hal-hal yang tak terkendalikan, karena kita terlalu sibuk untuk mengendalikan yang terkendalikan.
Jika Anda dapat mengendalikan yang dapat dikendalikan, Anda dapat menangani yang tidak terkendalikan.
Semoga bermanfaat
PEDOMAN HIDUP MANUSIA
Tahukan Anda? alangkah bijaksananya Anda jika berbagi dengan saudara yang lain, adil bukan?
1. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri
2. Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
3. Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
4. Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati
5. Kesalahan terutama manusia adalah mencampakkan dirinya
6. Dosa terutama manusia adalah mencampakkan dirinya dan orang lain
7. Sifat manusia yang paling terkasihan adalah rasa rendah diri
8. Sifat manusia yang paling dapat di puji adalah semangat keuletannya.
9. Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan
10. Harta terutama manusia adalah kesehatan
11. Hutang terbesar manusia adalah hutang budi
12. Hadiah terbesar manusia adalah lapang dada dan sifat mau memaafkan
13. Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan
14.Ketentraman dan kedamaian manusia adalah suka berdana dan beramal.
Semotga bermanfaat
1. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri
2. Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
3. Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
4. Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati
5. Kesalahan terutama manusia adalah mencampakkan dirinya
6. Dosa terutama manusia adalah mencampakkan dirinya dan orang lain
7. Sifat manusia yang paling terkasihan adalah rasa rendah diri
8. Sifat manusia yang paling dapat di puji adalah semangat keuletannya.
9. Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan
10. Harta terutama manusia adalah kesehatan
11. Hutang terbesar manusia adalah hutang budi
12. Hadiah terbesar manusia adalah lapang dada dan sifat mau memaafkan
13. Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan
14.Ketentraman dan kedamaian manusia adalah suka berdana dan beramal.
Semotga bermanfaat
KEMATIAN KITA
Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik.
Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati.
Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati.
Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan.
Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Semoga Bermanfaat,
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan.
Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Semoga Bermanfaat,
buah pikiran
Kebaikan dan kebahagiaan terdapat dalam suatu perbendaharaan yang kuncinya adalah berpikir.
Berpikir merupakan suatu keharusan. Sementara ilmu pengetahuan adalah hasil pemikiran.
Suatu pengertian dan sikap akan ia pegang dengan ilmu pengetahuan yang ia ketahui. Karena setiap orang yang mengetahui sesuatu, yang ia senangi atau benci, dalam hatinya akan tertanam suatu sikap hasil pengetahuan itu, dan sikap itu akan mendorong kepada keinginan, dan keinginan itu yang akan mendorongnya kepada amal perbuatan.
Maka, disini ada lima perkara: buah pikiran adalah ilmu pengatahuan, buah keduana adalah sikap suatu sikap yang tertanam di dalam hati, kemudian menghasilkan keinginan, dan keinganan itu menghasilkan amal perbuatan.
Dengan demikian, berpikir adalah pokok dan kunci bagi seluruh kebaikan.
Berpikir merupakan suatu keharusan. Sementara ilmu pengetahuan adalah hasil pemikiran.
Suatu pengertian dan sikap akan ia pegang dengan ilmu pengetahuan yang ia ketahui. Karena setiap orang yang mengetahui sesuatu, yang ia senangi atau benci, dalam hatinya akan tertanam suatu sikap hasil pengetahuan itu, dan sikap itu akan mendorong kepada keinginan, dan keinginan itu yang akan mendorongnya kepada amal perbuatan.
Maka, disini ada lima perkara: buah pikiran adalah ilmu pengatahuan, buah keduana adalah sikap suatu sikap yang tertanam di dalam hati, kemudian menghasilkan keinginan, dan keinganan itu menghasilkan amal perbuatan.
Dengan demikian, berpikir adalah pokok dan kunci bagi seluruh kebaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)






