Nyatanya setiap hati tak pernah berbaur,
Masing – masing mengumbar takabur,
- Katanya mau bersatu seia sekata, Nyatanya setiap hati saling berseteru, Masing – masing memandang aku sebagai keakuan,
Nyatanya berhati serigala, berlagu lugu siap berlaga,
Saling mengintip kemudian menggila,
- Bagaimana bisa saling sayang, nyatanya dibelakang memandang pribadi sebagai sarang untuk saling serang,
Nyatanya hanya kata – kata nista yang tertutur dalam dusta dan cita – cita belaka,
- Sebagai teman yang mendukung arti sahabat dan persahabatan, nyatanya silaturahim saja enggan, hanya saja kedengkian dan pandangan sebelah mata,
Manis bagai gula, di dalamnya racun belaka
- Dalam amanah, bertangung jawab, menyampaikan dalam laporan dan fakta aktual, membuka dan menutup kesempatan dan merangkai setiap keterbukaan, Alamak, menggunting dalam lipatan, formalitas belaka dan hanya fatamorgana seolah tanggung jawab, khianatnya terangkai begitu saja setelah tiada lagi pemaknaan tanggung jawab seutuhnya,
Di belakangnya sekat lawan, caci maki, menyebar dalam ghibah dan fitnah
- Bagaikan kekasih, saling melengkapi, menyanjung, berbelas kasih, mengungkapkan hati se indah rasa Berbenah dalam kilaukan kata – kata mutiara, Ternyata berbagi hati, mendua, melupakan, egois, apatis, tak mau mengingat karena mudah sakit hati, berbenah perasaan, porak poranda dalam keinginan antara pandangan yang tak terjaga dan hawa nafsu,
Ya Rabb, tidak ingin semuanya menjadi bagian dari diri ini, jika memang ada, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Maha Pengampun dari semua taubat yang kami lakukan,
Lindungan kami dari setiap usaha syetan yang selalu menggoda dari segala arah sehingga kami lalai dan terjerembab dalam jurang kemunafikan, nista, dosa belaka,
Ya Rabb, yang Maha Mengendalikan hati dan membolak balikan hati kami, palingkanlah, tempatkanlah hati kami dalam suasana kerinduan, kesejukan, keindahan, keagungan rahmatMu, dalam sucinya hati.
Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar